Batik buat Anak Muda


Sebagai kain, batik dalam kehidupan masyarakat Indonesia tidak mengenal musim. Saat ini menurut perhimpunan pencinta kain adati, Wastraprema, batik diproduksi di 17 provinsi, melampaui batas geografis daerah asal batik di Nusantara.

Namun, sebagai mode, batik sedikit-banyak tunduk pada ”hukum” mode. Ada kalanya semua orang mengenakan batik dalam segala kegiatan, ada kalanya batik sebagai mode surut. Seperti pernah dikatakan maestro batik Iwan Tirta pada akhir 1990-an, batik akan bertahan sebagai kemeja laki-laki dan sebagai selendang busana perempuan batik. Sebagai selendang, kain batik tetap bisa memberi identitas Indonesia ketika dipadukan dengan busana bergaya Barat.

Sebagai mode, batik tampaknya memerlukan sosok perancang untuk membuatnya tetap populer. Dalam hal ini, perancang busana Edward ”Edo” Hutabarat dengan Part One-nya percaya pada kekuatan batik sebagai gaya hidup, setidaknya sampai saat ini.

Setelah pada tahun 2007 mengangkat batik katun ke ranah mode dengan memanfaatkan corak dan warna batik sebagai kekuatan utama, Edo tetap bertahan menggunakan batik sebagai unsur utama rancangan Part One.

Ketika awal Desember lalu membuka toko Part One di Pacific Place Jakarta—pindahan dari toko di mal yang sama—Edo tetap menggunakan batik.

”Batik cocok untuk alam tropis seperti Indonesia,” kata dia.

Edo mewujudkannya ke dalam busana bergaya resor yang kasual dan bermain-main. Gaun sutra sifon panjang berlipit, baju katun bergaris A warna cerah bercorak hokokai, hingga gaun semiresmi dan jaket panjang. Semua masih dengan ciri khas Edo, yaitu paduan motif bergaris atau kotak-kota sebagai aksen. Koleksi ini jelas menyasar orang muda yang memang menjadi sumber inspirasi Edo.

Malam itu, mayoritas undangan adalah orang muda, seperti Nia Dinata, Mira Lesmana, pemetik harpa Maya Hasan, aktris Dian Sastrowardoyo, hingga produser pertunjukan Jay Subiyakto dan istrinya, Elvara, serta putri mereka yang berusia 20 bulan.

”Aku bikin batik yang gaul untuk anak muda. Melalui mereka batik lebih gampang diterima dan diikuti banyak orang. Makin banyak yang memakai batik, makin baik karena memberi pekerjaan untuk perajin,” kata Edo.

Merah adalah warna baru Edo. Di atas warna merah itu Edo menorehkan corak flora. Selain untuk menyambut Natal dan tahun baru, warna merah juga mengindikasikan mendekatnya tahun baru Imlek yang jatuh setiap Februari.

Setelah banyak memakai corak pesisiran, Edo yang tidak mau menyebut dirinya sebagai pembatik itu segera menggarap motif pedalaman Jawa Tengah yang banyak didominasi warna coklat sogan.

Setelah itu? Dia belum mau banyak bicara kecuali mengatakan dia sedang mengumpulkan kain tenun. Mari kita tunggu kejutan berikut dari Edo.

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/03/03500457/batik.buat.anak.muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: