Toilet


Hmm, tidak jelas. Dia ini laki-laki atau perempuan. Rambutnya pendek meski bukan cepak. Hal pertama yang kutemui, setelah melewati lorong-lorong panjang itu, adalah tatapan matanya. Sebatang kayu, di ujungnya kain pel, melekat erat di tangannya yang kurus. Dan cara berdirinya? Astaga! Seperti laki-laki kekar.

Niat untuk pipis setengahnya terhenti. Alarm bahaya berbunyi lirih. Hati-hati. Toilet ini sepi sekali. Hanya aku dan wanita atau laki-laki ini. Padahal siang sudah merayap ke tengah. Entah, mungkin semua orang hari ini sedang tidak kebelet. Atau mungkin malas bersusah payah turun ke ground floor melewati tembok-tembok kuning pucat yang angkuh ini.

“Per-misi,” ucapku setengah gagap. Sepertinya ia paham. Ia bergeser memberiku ruang lewat. Tapi tetap tegak tepat di pintu berukuran sempit itu. Aku mengerutkan badan. Berusaha tidak menyentuh bagian tubuhnya manapun.

Sedikit senyum mampir di bibirnya. Tepatnya, tarikan sudut bibir kiri yang menyerupai senyum. Tampak agak getir. Dan tak enak dilihat.

Buru-buru aku masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. Kucari yang terjauh. Rasa aneh menjalar. Sembari menuntaskan hajat kecilku, aku berusaha tidak memikirkan apa yang sedang menunggu di luar.

Tiba-tiba, seseorang dengan sepasang sepatu tinggi masuk tergesa. Seisak tangis bersamanya. Bunyi berserakan. Beberapa barang mungkin sedang dikeluarkan dari dalam tasnya yang berwarna merah menyala, atau pink, atau biru terang. Sepertinya, ini hanya salah satu tipe perempuan yang gampang terluka.

Ah, dia (pasti) mencari tisu. Lalu segera sibuk mengusap butir-butir air di pipi dengan kasar. Meratakan kembali bedak. Memoles pipi dengan blush on. Dan memandang wujud dirinya yang satu di depan cermin besar. Tampak berantakan. Isaknya kini lirih tapi tetap terdengar. Rupanya, ia belum mampu menghibur diri.

Baca SelengkapnyaSi penjaga – yang perempuan atau laki-laki – sepertinya sedang diam dan rikuh menghadapi aksi dramatis itu.

“Laki-laki memang bangsat semuanya!!!” Lalu ia terisak lagi. Aku kaget sebentar, suara itu terdengar tidak asing. Perlahan aku keluar dari bilik kecil dan mendapati sosok perempuan mungil yang indah. Rose.

“Ah, kamu Ndri..” Kembali ia mengusap sudut matanya, lalu beralih ke hidungnya. Membersitnya sekali. Dan keras.

“Ros, … ” Agak kaku. Aku tak mengenalnya dekat. Hanya sesekali melihatnya lewat di depan counter tempatku bekerja. Kami sama-sama sedang mengais nafkah di gedung besar ini.

Rose tertawa lirih. Aih, itu bukan jenis tawa yang ingin kudengar hari ini.

“Laki-laki selalu begitu, Ndri. Entah kenapa mereka harus diciptakan.” Aku diam saja. Sambil membersihkan tangan di wastafel putih abu-abu, kulirik ia malu-malu.

“Apa lagi coba? Selalu saja kurang. Kurang ini, kurang itu. Trus lari kemana-mana. Mereka mencari apa sih di hidup ini?”

Aku masih diam. Berpura-pura konsentrasi dengan tangan dan busanya yang banyak. Ah, tadi aku pasti menuangnya berlebihan.

“Kau tahu nggak, Ndri, wanita yang merebutnya dariku itu…” Aku terhenyak. Sepertinya waktu sedang berhenti berdetak. Jantungku tiba-tiba terhentak kencang. Sepersekian detik aku hilang kendali, tapi segera kembali normal. Rose tak melanjutkan kata-katanya. Sesuatu mungkin mengganggunya.

“Haha, sori Ndri…Jadi, nggak sadar. Aku malah ngomong ngawur. Perempuan harus selalu kuat, kan ?” Aku mengangguk. Sesuatu kini menggangguku.

Lantas, ia memunguti barang-barangnya, pamit, dan melenggang pergi. Di pintu, ia mengangguk kecil ke si penjaga yang diam-diam sedang memperhatikan kami.

Diselingkuhin ya mbak?” sebuah nada alto. Itu si penjaga. Ah, perempuan.

“Mungkin. Saya nggak paham, mbak. Cuma teman biasa.”

“Padahal dia cantik.”

“Ya.”

Sejurus, hawa di situ menjadi gerah.

“Perempuan selingkuhan itu pasti memiliki sesuatu.”

“Hmm, mungkin.”

Aku menyudahi aktivitasku. Bukan karena merasa sudah rapi. Hanya segera ingin pergi. Perempuan penjaga ini membuatku tampak bodoh.

“Kalau saya yang diperlakukan begitu, sudah saya cincang, mbak..” ucapnya datar. Hampir tanpa emosi. Aku terpaksa tersenyum.

“Iya mbak. Pasti harus begitu.”

***

Hari ini kutemui seorang lelaki. Beberapa bulan ini ia rutin bersamaku. Tidak sering, hanya setiap beberapa kali dalam satu minggu. Ditambah dengan pesan-pesan singkat di inbox. Dan chatting.

“Hai dear, sudah siap?”

“Mmm, aku nggak jadi ikut mas.”

“Lho???”

Nggak enak badan. Aku mau pulang aja..”

“Ah, ya, udah. Ke dokter dulu ya..”

Nggak usah. Nanti malam pasti sudah baik. Cuma pengen tidur.”

Rasanya kepalaku memberat, tepat saat itu juga.

Dan aku pulang. Merebahkan badan sambil mengingat-ingat. Perempuan yang kukira laki-laki. Rose. Dan laki-laki.

***

“Kamu baik, dear?”

“Mendingan…” Bohong.

Gimana perasaanmu sekarang?”

“Aneh.”

“Kenapa? Sepertinya ada yang kurang hari ini?”

“Aku baru berpikir. Kita selesai aja.”

“Apa, sih. Kenapa lagi?”

“Sudah selesai, sayang. Aku sampai di sini aja.”

Diam.

Hampir sepuluh menit. Desah nafas. Hirup. Hembus. Hirup. Hembus.

“Ya, sudah!”

Akhirnya ditutup. Perbincangan selesai. Aku nanar memandang langit-langit. Setengah hatiku tenggelam dalam sunyi yang sangat dalam. Tersayat-sayat. Hilang di sebuah pusaran yang makin lama makin cepat.

***

Sayang,

hidup seperti air mengalir. Terus mengalir. Sampai sesuatu yang cukup padat           menghalanginya.

Itu pun tak kan berlangsung lama karena air terus mengalir. Terus memberi      tekanan-tekanan yang tak henti.

Jika saja mesin waktu itu benar ada, mungkin bisa kita cari jalan paling pintas untuk bertemu lebih dulu, menikah, lalu saat ini sedang tertawa bahagia bersama        mimpi-mimpi besar.

Tapi mesin waktu itu tidak ada.

Jadi kita urungkan saja semua niat. Kita coba memahami hidup ini dari sisi yang       tak gampang terlihat.

Dan, bagaimana mungkin kita bisa paham kalau kita tak belajar memahami?           Bagaimana mungkin bisa belajar kalau kita takut dilukai?

***

Sekali lagi aku bertemu perempuan itu. Di toilet yang masih sepi seperti dulu. Evie, temanku yang hari itu kuajak jalan, bergidik.

“Ihh, kok serem banget, sih, Ndri..”

“Udah, deh. Buruan aja.”

Perempuan penjaga itu menatap seperti kemarin. Dalam dan dingin. Ia berdiri di pintu sambil memegang tangkai kayu berujung kain berbulu.

“Kemarin ada yang meninggal di sini.”

Aku sontak kaget. Berita itu mengerikan sekaligus menyedihkan.

“Oh, ya. Kok bisa, mbak?” tanyaku. Berlagak sopan.

“Dibunuh.”

Aku mengangguk. Kelu. Kuharap Evie segera keluar dari bilik kecil itu dan mengajaknya berlalu.

“Selingkuh,” bisiknya dengan nada rendah dan halus. Aku mengangguk lagi. Tidak tahu reaksi lain yang lebih tepat. Untung Evie akhirnya datang. Kutarik tangannya dengan cepat.

“Ayok!”

Lima belas menit kemudian, ketika kami sudah duduk di sebuah taksi melaju menuju pulang, Evie bertanya padaku mengapa perempuan penjaga toilet itu tersenyum. Ah, Rose.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: