Wanita akhir jaman


Aku memandang wajah ibu. Berharap ada banyak alasan dan jawaban di sana. Atau setidaknya ada banyak kata untuk menjawab “mengapa”. Tapi wajah ibu terlalu simple. Terlalu mudah menerjemahkan semua tanda Tanya yang tergambar di mataku.

“Ibu sudah tua, Tik…Ibu sudah tidak ingin apa-apa lagi…,”

“Justru ibu sudah tua. Harusnya ibu tinggal menikmati masa tua ibu dengan bahagia,” Aku memberondong ibu dengan alasan-alasan manusiawiku. Yah…apa salahnya. Toh ibu juga manusia. Ibuku wanita, aku juga.

“Memangnya kalau bapakmu kawin lagi, ibu tidak bahagia ?” Jawabnya pelan sambil memandangku penuh ketenangan. Apa ini ?

“Ya tentu lah, Bu. Lalu ibu terus bagaimana ?” Kejarku tak menyerah. Aku belum punya cukup alasan untuk menerima keputusan ibu.

“Ya tidak gimana-gimana. Memangnya ibu harusnya gimana ?”

Aku terdiam. Ya, ibu harus bagaimana ya ? Menolak keinginan bapak menikah lagi ? Ibu sudah 55. Bapak 36. Pernikahan kedua ibu dengan bapak tak membuahkan keturunan. Dan Bapak masih ingin punya anak, tapi tak ingin bercerai dengan ibu. Atau meminta cerai ? Ibu juga tak ingin bercerai dengan Bapak. Bapak, laki-laki baik. Ia tidak merokok, tidak selingkuh. Ia hanya ingin punya anak.

Jadi harus bagaimana ?

“Ibu yang menjalani, Tik. Ibu siap,”

Itulah Ibuku. Di masa senjanya, ia menerima keputusan bapak menikah lagi. Dan aku, tak pernah bisa mengerti, apalagi menerima keputusan. Aku tidak bisa mempengaruhi keputusan. Aku, Atikah, anak perempuannya 20 tahun ini hanya terlongong. Ada ketakutan, mungkinkah kehidupan Ibu akan menjadi cermin bagi kehidupanku ? Otak manusiaku tak mampu memahami Ibu. Perasaanku tak bisa menerima keputusan Ibu. Tak bisa.

Ibuku dimadu. Istri kedua Bapak, seorang gadis desa sederhana yang baru berusia 15 tahun. Ia, pantasnya jadi adikku. Pantasnya pula jadi anak, atau bahkan cucu Ibu. Tapi kini aku harus memanggilnya ibu juga. Ah, aku tak bisa. Melihatnya bagai melihat luka. Tapi nyatanya tidak. Ibuku mengasihinya. Betul-betul seperti saudara perempuannya. Sekali lagi, aku tak bisa memanggilnya ibu. Aku memanggilnya Mbak. Tak masalah, kata Ibu. Dan si Mbak, istri kedua Bapak, akhirnya hamil. Ibu, sungguh luar biasa merawat gadis kecil, madunya itu. Sebuah perawatan yang aku tahu, kalau aku menikah dan hamil nanti, akankah ibu akan merawatku seperti itu. Diam-diam, aku cemburu.

Ibuku, perempuan desa yang tak berpendidikan. Keahliannya hanya menjahit sederhana. Ia, terus menjahit membantu bapak mencari tambahan penghasilan untuk makan tiap hari. Dan Mbak, bertugas mengurusi rumah tangga mulai dari membersihkan rumah, memasak, dan semuanya. Aku, perempuan masa kini, dengan latar belakang pendidikan cukup tinggi, rasanya tak mampu memasukkan fakta itu dalam kadar pemahamanku.

“Ibuu…,” Aku hamper-hampir menjerit tak percaya. Belum habis kukuras tenagaku untuk menerima kenyataan ini. Kini, Ibu meminta pengertianku lagi.

“Ibu ingin bareng-bareng mengurus rumah tangga, Tik,”

Tuhaan…apa lagi ini ? Ibu meminta pengertianku karena ia ingin tinggal serumah dengan Bapak dan Mbak.

“Ibu…haruskah begitu ?”aku tak punya lagi kata. Rasa? Entahlah. Aku bahkan tak yakin sedang berpijak di bumi saat ini.

“Tidak harus. Tapi Ibu ingin membantu Mbak Narsih ngurus rumah tangga,”

“Tapi kan tidak harus begitu, Bu…,”

“Ya…tapi Ibu ingin,” tegasnya lagi.

Ibuku ingin tinggal serumah dengan Bapak dan Mbak Narsih. Ya Allah…Nabi bahkan memisahkan rumah para istrinya. Tapi ini ?

“Ibu sudah tua, Tik. Pikiran Ibu sudah tidak seperti pikiranmu,”

“Tapi Bu…bagaimana mana mungkin tinggal serumah…,”

Ibu tersenyum. Senyum yang sama sekali tak mampu kuterjemahkan dalam kata apapun. Ia, perempuan yang melahirkanku. Ia perempuan desa yang tak tahu baca tulis. Tapi ia mengantarkanku hingga bangku kuliah. Ia luar biasa. Tapi ia terlalu sederhana, terlalu biasa. Terlalu simple. Tak ada kesombongan meski aku, satu-satunya anak desa ini yang bisa kuliah sampai sarjana. Ibuku tetap ibuku. Yang irit kata. Tapi kaya makna.

Ibuku, tinggal serumah dengan Bapak dan madunya. Ibuku, ia merawat anak madunya seperti anak sendiri, mungkin melebihi ia merawatku, dulu. Ibuku yang melarikan “anaknya” ke bidan ketika badannya menghangat, sementara Mbak Narsih hanya menangis ketakutan. Ibuku juga yang menggendong, menyayang, bahkan membela ketika orang-orang bertanya dan melihat dengan pandangan sinis.  Ah…sungguh…aku cemburu. Sungguh, cemburu. Dan madunya, teramat sangat hormat ia pada ibuku. Sebuah paduan kerelaan, penghargaan, dan penghormatan yang sangat harmoni. Aku…aku yang cemburu. Aku ini, wanita akhir zaman, yang tak mampu lagi mengejar makna kehidupan yang difahami ibuku.

Karya : Tulus Kurnia Wati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: