Wanita akhir jaman

Aku memandang wajah ibu. Berharap ada banyak alasan dan jawaban di sana. Atau setidaknya ada banyak kata untuk menjawab “mengapa”. Tapi wajah ibu terlalu simple. Terlalu mudah menerjemahkan semua tanda Tanya yang tergambar di mataku.

“Ibu sudah tua, Tik…Ibu sudah tidak ingin apa-apa lagi…,”

“Justru ibu sudah tua. Harusnya ibu tinggal menikmati masa tua ibu dengan bahagia,” Aku memberondong ibu dengan alasan-alasan manusiawiku. Yah…apa salahnya. Toh ibu juga manusia. Ibuku wanita, aku juga.

“Memangnya kalau bapakmu kawin lagi, ibu tidak bahagia ?” Jawabnya pelan sambil memandangku penuh ketenangan. Apa ini ?

“Ya tentu lah, Bu. Lalu ibu terus bagaimana ?” Kejarku tak menyerah. Aku belum punya cukup alasan untuk menerima keputusan ibu.

Baca Selengkapnya

Iklan

Cinta Tumbuh di Lembaga Pemasyarakatan

hari ini adalah hari minggu..dan seperti biasa aku libur sekolah…

tante ku mengajak ku untuk mengunjungi salah seorang tmn nya..yang tengah menjalani hukuman di LEMBAGA PEMASYARATAN….

Dan aku pun menyetujui ajakan nya..karena memang  hanya dia tmn ku dirumah…kami tidak seperti tante dan keponakan melainkan seperti seorang sahabat….susah, senang kami jalani bersama..dan tmn2..ku menjai teman dia sebalik nya…

ini adalah x pertama aku ketempat itu,…nampak seperti orang bingung…di sela2… menunggu teman tante ku datang sebelum di panggil petugas kami duduk..di meja dan kursi yang memang sudah di siapkan ..

Baca Selengkapnya..ada seseorang lelaki menghampiri kami b2…laki2..ini seperti petugas lapas..dan dia menyapa kami..” maaf mba mau jenguk spa?…lalu tanteku menjawab ” teman” dan laki2…itu bertanya lagi sudah di panggil ya..

lalu laki2 ini menyodorkan tangan nya dan mempernalkan dirinya …

nama saya” dani ” ooo ya lalu tante menjawab saya linda dan ini keponakan saya tami…

lalu dia membuka pembicaraan ..baru pertama x kesini ya ?? tanya dani…

tante ku” ya….

Baca Selengkapnya

Toilet

Hmm, tidak jelas. Dia ini laki-laki atau perempuan. Rambutnya pendek meski bukan cepak. Hal pertama yang kutemui, setelah melewati lorong-lorong panjang itu, adalah tatapan matanya. Sebatang kayu, di ujungnya kain pel, melekat erat di tangannya yang kurus. Dan cara berdirinya? Astaga! Seperti laki-laki kekar.

Niat untuk pipis setengahnya terhenti. Alarm bahaya berbunyi lirih. Hati-hati. Toilet ini sepi sekali. Hanya aku dan wanita atau laki-laki ini. Padahal siang sudah merayap ke tengah. Entah, mungkin semua orang hari ini sedang tidak kebelet. Atau mungkin malas bersusah payah turun ke ground floor melewati tembok-tembok kuning pucat yang angkuh ini.

“Per-misi,” ucapku setengah gagap. Sepertinya ia paham. Ia bergeser memberiku ruang lewat. Tapi tetap tegak tepat di pintu berukuran sempit itu. Aku mengerutkan badan. Berusaha tidak menyentuh bagian tubuhnya manapun.

Baca Selengkapnya